Silent Separation Chapter 2 – Indonesian

Akhiiirnya bisa upload chapter 2. Chapter agak panjang ya. Alhamdulillah bisa selesai berkat bantuan dari Yui. Makasih banyak yaaaa…. sempet lost di drama jadi novel agak keneglect. Maaf ya baru balas, pagi ini baru sempat kuedit-edit lagi tadi.  Ditranslate dari english translation, bisa klik di sini.

Chapter 2: Turnaround (translated by meyza and edited by Yui)

Matahari terbenam di barat. Sinar matahari sore menutupi langit.

He Yi Chen berdiri di depan jendela lebar di kantornya yang terletak di lantai sepuluh, mengejutkan karena dia sedang ingin mengagumi matahari terbenam.

Mungkin, karena Mo Sheng telah kembali.

Mei Ting membuka pintu dan melihat pengacara He berdiri membelakanginya di depan jendela. Yi Chen memegang sebatang rokok ditangannya dan terlihat murung…….. murung? Mei Ting meragukan apa yang dilihatnya. Dapatkah kata ini digunakan untuk pengacara He yang selalu penuh percaya diri, tenang dan selalu dapat menguasai diri?

Yi Chen mendengar pintu terbuka, berbalik dan bertanya: “Ada apa?”

“Oh,” Mei Ting tersentak dari pikirannya sendiri dan berkata dengan cepat: “Pengacara He, Wakil Presiden Zhang Hong Yuan Corp telah tiba”

“Suruh dia masuk.” Yi Chen membuang pikirannya yang kacau dan kembali fokus menyibukkan dirinya dalam pekerjaannya. Dia melirik jam di dinding – jam lima, tapi perempuan itu belum juga datang.

Akhirnya, ia mengantar keluar Wakil Presiden Zhang, Yi Chen bersandar di kursi dengan letih dan memejamkan mata untuk beristirahat. Tiba-tiba, sebuah telapak tangan yang besar menampar bahunya, Yi Chen dengan enggan membuka matanya. “Lao Yuan.”

Setelah lulus dari universitas, ia menolak tawaran studi pascasarjana  dan sebaliknya mulai bekerja di “‘Yuan Xiang Law Firm,” yang kini telah berganti nama sebagai “Yuan Xiang He” sejak ia menjadi salah satu mitra. Lao Yuan dan mitra lain Xiang Heng juga merupakan alumni Universitas C. Xiang Heng lulus satu tahun lebih awal darinya sedangkan Lao Yuan lulus bertahun-tahun yang lalu.

Pria tinggi, kokoh dan besar yang tampak lebih seperti bandit itu duduk dengan santai di hadapannya dan dengan arogan menyilangkan kaki. “Apa rencanamu nanti?”

Yi Chen berkata tanpa melihat: “Lembur. “

“Tidak boleh la!”jerit Lao Yuan. “Hei, hari ini adalah akhir pekan!”

“Lalu kenapa?”

“Lalu kenapa!” Lao Yuan mengulangi kata-katanya dan menggelengkan kepalanya. “Ini benar-benar terdengar seperti He Yi Chen yang berdarah dingin, kejam dan gila kerja yang mengatakannya.”

Yi Chen memicingkan mata. “Wah, Aku jelas tidak tahu kalau kau begitu hebat beretorika.”

“NO, NO, NO.” Lao Yuan menjabat tangannya. “Ini adalah konsensus dari semua wanita yang tahu He Yi Chen.” Lao Yuan maju mendekat. “Yi Chen, aku sudah lama ingin menanyakan ini, jujur saja, apa kamu gay atau punya penyakit yang tidak dapat disebut?”

“Untuk omong kosong konyol seperti ini, hanya orang gila yang akan memperhatikan hal itu,” pikir He Yi Chen. Mei Ting datang dengan dua cangkir kopi, dan Yi Chen bertanya: “Apakah Miss Zhao datang hari ini?”

Mei Ting berpikir sejenak, menggelengkan kepala dan berkata: “Tidak.”

Yi Chen mendesah untuk menunjukkan bahwa dia mendengar lalu berkata pada Mei Ting: ” tidak banyak yang harus saya kerjakan di sini jadi kamu sebaiknya pulang lebih awal.”

Mei Ting menggeleng dan berkata: “Saya tidak sedang terburu-buru. Pengacara He, kapan anda pergi? Apakah Anda ingin saya membeli sesuatu untuk dimakan? “

“Tidak perlu, terima kasih.”

Mei Ting mengerti dan pergi dengan wajah kecewa.

Lao Yuan tertawa terbahak-bahak: “Hei, Mei Ting si cantik itu tertarik padamu. Asmara kantor, oh itu tidak terdengar buruk! “

“Dia seorang perempuan yang baik jadi sebaiknya kau tidak mengatakan omong kosong seperti itu.” Yi Chen memperingatkannya.

Hati batu! Lao Yuan menggeleng pelan. Sikap Yi Chen terhadap perempuan selalu sopan dan bijaksana, tetapi tidak lebih dari itu. Bertahun-tahun, entahlah sudah berapa banyak wanita yang patah hati pada pria yang bernama “He Yi Chen.”

Namun tidak mengherankan banyak wanita yang mendekatinya, bahkan dari perspektif Lao Yuan sebagai laki-laki, He Yi Chen sungguh luar biasa. Abaikan semangatnya yang heroik dan penampilan luar yang menarik, hanya dalam beberapa tahun, reputasinya di kalangan hukum meningkat pesat. Selain itu, imagenya yang tegas, gigih dan tulus lebih dari cukup untuk menarik wanita idaman dan cantik.

“Perempuan seperti apa yang sebenarnya kau sukai? Begitu banyak perempuan, tapi tak satupun yang dapat menyentuh hatimu. Wanita cantik yang merupakan direktur sebuah perusahaan asing, bentuk tubuhnya aaahh… sangat hot! Itu pembawa acara televisi yang telah bekerja sama denganmu sekian lama. Jangan bilang tidak ada rasa apapun walau hanya sedikit? Ada juga rekan kita yang efisien dan mampu, Xu Pi Li. Aku bertemu dengannya di pengadilan hari ini, dan dia kadang bertanya padaku tentangmu …… “

Semakin Lao Yuan bicara, semakin bersemangat dia. Yi Chen menutup telinga, membiarkan Lao Yuan terus berbicara omong kosong. One-man show hingga Lao Yuan berhenti dengan frustrasi. Beberapa saat kemudian, ia berkata dengan gembira: “Aku tahu, adikmu Yi Mei. Kamu memperlakukan dia yang terbaik. “

Yi Mei sering datang ke kantor jadi Lao Yuan sangat akrab dengan dia.

“Dia adikku.” Kata Yi Chen cepat.

“Ayoo, kalian berdua tidak ada hubungan darah.” Kata Lao Yuan yang mengetahuinya.

“Itu tidak mengubah apa pun.”

Nada Yi Chen cukup ringan, tetapi Lao Yuan masih bisa mendengar ketegasan dalam suaranya. Lao Yuan menggeleng dan tidak mengatakan apa-apa lagi karena ia pernah menghadapi Yi Chen yang keras kepala sebelumnya.

“Pengacara He.” Mei Ting masuk, memegang amplop. “Seorang wanita baru saja mengirim ini kesini.”

Yi Chen tahu apa itu hanya dengan menyentuhnya. “Dimana wanita itu?”

“Dia langsung pergi setelah meninggalkan amplop ini.”

“sudah pergi ?” Yi Chen tampak kecewa. “Sudah berapa lama dia pergi?”

“Kurang dari semenit.”

Yi Chen tidak banyak berpikir. Dia hanya mengambil kunci mobil dan mantel lalu keluar. Lao Yuan mengikutinya dari belakang dan berteriak: ” kau akan pergi Kemana?” Yi Chen tampaknya tidak mendengar.

Di pintu depan, Lao Yuan kebetulan bertemu Xiang Heng, yang baru saja kembali dari pengadilan. “Apa yang terjadi padanya?”

Xiang Heng  mengikuti arah He Yi Chen pergi, berkata dengan serius “Aku pikir aku tahu alasannya.”

“Kau tahu? Cepat katakan, cepat. “

“Aku baru aja melihat seseorang di lantai bawah. Aku pikir salah lihat, aku tidak berharap itu benar-benar dia. “

“Siapa? Jangan membuatku penasaran. ” Kata Lao Yuan dengan tidak sabar.

“Orang seperti apa yang kamu pikir Yi Chen itu?” Xiang Heng tidak menjawab tapi malah bertanya.

“Tenang, rasional dan obyektif.” Evaluasi yang adil dari Lao Yuan.

“Dalam hal ini, orang ini akan membuatnya tidak tenang, tidak rasional dan tidak objektif.”

Lao Yuan bertanya dengan penasaran. “Seorang wanita?”

“Ya, mantan pacarnya.” Meskipun Xiang Heng satu tahun di atas Yi Chen, mereka tinggal di asrama yang sama sehingga dia tahu betul tentang masa lalu Yi Chen.

“Pacar?” Lao Yuan memiliki ekspresi seseorang yang mendengar cerita fantasi, “Dia punya pacar sebelumnya?”

“Ya, pacar Yi Chen putus dengannya karena pergi ke Amerika Serikat.”

“Maksudmu……” Lao Yuan membuka matanya lebar-lebar. “Yi Chen diputusin?”

“Ya, apalagi dia pergi tanpa memberitahunya. Setelah dia pergi ke Amerika Serikat, Yi Chen baru tahu tentang hal itu. Insiden ini diketahui secara luas di kampus. Yi Chen sangat tertekan untuk beberapa waktu. Pada saat itu, ia mulai merokok dan minum. “

“Mustahil la ……” Lao Yuan benar-benar tidak bisa membayangkan seperti apa wanita yang bisa meninggalkan He Yi Chen. Tidak heran Yi Chen tidak mau dekat dengan wanita, sekali mengalaminya, dia akan lebih berhati-hati.


Saat itu jam sibuk karena semua orang pulang kerja. Mo Sheng tidak terburu-buru untuk pulang sehingga dia berkeliaran tanpa tujuan  di jalanan yang ramai.

Sampai beberapa saat yang lalu, ia tidak punya pilihan selain mengakui bahwa ia telah berubah. Dahulu, dia tidak akan mungkin benar-benar menghindari Yi Chen, kini jelas dia benar-benar ingin melihat Yi Chen namun tidak berani.

Saat itu, tidak peduli seberapa acuh tak acuhnya Yi Chen, bagaimana tidak pedulinya Yi Chen yang kadang membuatnya merasa  Yi Chen seribu mil jauhnya, ia tetap dengan senang hati mengikutinya dengan senyum di wajahnya. Sekarang, dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk mengatakan beberapa kata padanya.

Yi Chen mengatakan ia adalah ‘sinar matahari ‘, sinar matahari yang ingin dia tolak namun tak bisa. Tapi sekarang, bahkan sinar matahari dalam hatinya sendiri telah menghilang lalu apa yang bisa digunakan untuk menyinari orang lain?

Sebuah BMW putih tiba-tiba berhenti di depannya. Mo Sheng tidak memperhatikannya dan mencoba untuk menghindarinya. Kemudian, ia mendengar suara familiar. “Masuk ke mobil.”

Dia mendongak kaget, itu Yi Chen!

Yi Chen melihatnya yang tampak kebingungan, mengerutkan kening dan berkata lagi: “Mobil tidak bisa berhenti di sini jadi segera masuk”.

Mo Sheng tidak punya waktu untuk mempertimbangkan apa yang sedang terjadi karena mobilnya membawa mereka ke dalam kemacetan lalu lintas yang tak berujung.

“Makanan Cina atau Barat?” Yi Chen bertanya sambil memperhatikan situasi lalu lintas di depan.

“Makanan Cina.” Dia menjawab secara refleks, kemudian mulai merasa ada yang tidak beres. Makanan Cina atau Barat, Apa Yi Chen ingin mentraktirnya makan?

Yi Chen meliriknya dingin. “Apa kamu masih tahu bagaimana menggunakan sumpit?”

Mo Sheng berpura-pura tidak mendengarkan sarkasme nya, namun dengan hati-hati bertanya: “Apa kamu ingin mentraktirku makan malam?”

“Kamu mengembalikan dompetku jadi wajar kalau aku harus mengucapkan terima kasih.”

“Sebenarnya, kamu tidak perlu begitu sopan.” Mo Sheng bergumam, tiba-tiba merasa sedih. Sejak kapan mereka menggunakan kata-kata impersonal seperti itu?

Mereka makan malam di Qin Ji yang terkenal, di mana seting yang cantik, masakan lezat dan layanan yang memuaskan tidak mampu memperbaiki suasana hati Mo Sheng. Menghadapi wajah tanpa ekspresi di seberang meja, dia ditakdirkan mengalami gangguan pencernaan.

Nada dering musik  dari ponsel memecahkan suasana. Yi Chen menjawab panggilan. “Halo …… ya …… aku di Qin Ji …… tidak, ada juga Zhao Mo Sheng …… bertemu secara kebetulan …… oke.”

Tiba-tiba, dia memberikan telepon kepadanya. “Yi Mei ingin berbicara denganmu.”

Mo Sheng mengambilnya. “Halo.”

“Halo, Mo Sheng.” Sebuah suara lembut datang dari sisi lain.

“Yi Mei, lama tidak bertemu.”

“Ya ah, lama tidak bertemu.”

Kedua belah pihak diam, tidak tahu harus berkata apa hingga akhirnya Yi Mei berkata: “Mo Sheng, bagaimana kabarmu selama ini?”

“Tidak buruk, sampai saat ini saya enggan untuk meninggalkan AS” Mo Sheng berusaha bersikap santai dan tidak menyadari Yi Chen yang tiba-tiba menatapnya lekat.

“Oh.” Hening lagi, maka Yi Mei berkata: “Dapatkah kamu memberiku nomor ponselmu? Kita akan mencari waktu untuk bertemu. “

“Oke.” Mo Sheng menyebutkan nomor ponsel.

“Baiklah, kalau begitu sampai jumpa lagi ya.”

“Sampai jumpa.”

 Setelah menyelesaikan panggilan, dia memberikan telepon itu kembali pada Yi Chen, tapi dia tidak mengambilnya. “Masukkan nomor teleponmu.”

Mo Sheng kehilangan kata-kata dan menunduk untuk memasukkan nomor, tapi dia mengalami kesulitan saat memasukkan nama.

“Apa jenis metode input Cina yang kamu gunakan?”

“Stroke.”

“Oh.”

Ia masih belum bisa mengetik itu. “Bagaimana untuk mengetik kata ‘Mo’?”

Yi Chen mengulurkan tangan untuk mengambil telepon dari tangan Mo Sheng, “Aku yang akan mengetik.”

Mo Sheng merasa malu sambil melihat jari ramping anggun dan cepat mengetik di ponsel perak tersebut. Setelah beberapa detik, Yi Chen selesai mengetik dan menyimpannya kembali ke dalam saku.

“Kamu bahkan sudah lupa bagaimana menulis nama Cina-mu?”

“Tidak, hanya saja aku tidak tahu bagaimana menggunakan ponselmu.” Mo Sheng menggumamkan penjelasannya.

Yi Chen melirik ke arahnya dan tidak lagi berbicara. Makan malam dilakukan dalam suasana diam, bahkan hingga pulang.

Keluar dari mobil, Mo Sheng berkata: “Terima kasih telah mengantarku pulang.”

Yi Chen mengangguk dan melesat pergi.

Mo Sheng berdiri di sana, terdiam. Dia tidak tahu berapa lama dia berdiri di sana hingga ia menyadari tatapan aneh orang yang melewatinya, baru saat itu dia beranjak pergi dan buru-buru lari ke atas.


“Kencan buta?” Mo Sheng berteriak kencang.

“Pelankan suaramu!” Hua Xian Zi menutup celotehan mulut Mo Sheng. Kemudian Hua Xian Zi memperingatkannya: “Kamu tidak diizinkan untuk berteriak, oke?”

Mo Sheng mengangguk cepat, menunggu sampai ia melepaskan dan bertanya: ” Kamu ingin pergi kencan buta?”

“Bukan aku sendiri, tapi kita.”

“Kita? Mengapa, mengapa? “Mo Sheng memandang penuh tanya pada Hua Xian Zi.

“Kita adalah dua staf tertua di kantor yang tidak memiliki kekasih. Apakah kamu tahu, jika kita tidak melakukannya sekarang, kita tidak akan dapat menikah? “Hua Xian Zi bergegas untuk memeriksa kalender,” Target hari ini adalah dua insinyur sistem XX Co sehingga kamu dan aku sudah tepat . “

“Jika kamu ingin pergi, pergi sendiri saja. Aku tidak mau. “

“Mereka ada dua orang, aku tidak bisa menangani sendiri …… Ah Sheng, biasanya aku memperlakukan kamu dengan baikkan? Apakah aku akan menikah atau tidak tahun ini semua tergantung padamu.”Hua Xian Zi menatapnya sendu, seperti anak anjing yang ditinggalkan.

“Kamu bisa kencan satu demi satu la.”

“Tidak, itu terlalu tidak efisien. Aku juga butuh bantuanmu. “

“Bantuan seperti apa?” Kata Mo Sheng hati-hati karena tidak pernah mudah untuk membantu Hua Xian Zi.

Melihat Mo Sheng mundur, Hua Xian Zi mengambil banyak hal dari mejanya seperti kacamata hitam berbingkai, wig aneh, anting-anting yang cukup besar bahkan untuk dijadikan gelang dan beberapa pakaian yang sangat berwarna-warni.

“Apa itu?” Mo Sheng menatap tumpukan barang.

“Untuk membuat kamu terlihat jelek sehingga kecantikanku terpancar!”

“…… Aku korbanmu yang keberapa?”


Ketika waktu pulang kantor tiba, Hua Xian Zi menarik Mo Sheng dan berlari turun ke bawah. Ketika mereka akhirnya mencapai lantai dasar, Hua Xian Zi berteriak: “Ah! Aku lupa untuk mengambil lipstik ‘harus-menang’ku. “

Dia bergegas kembali untuk mengambil lipstik kencan buta ‘harus-menang’.

Mo Sheng menunggunya di depan pintu, tiba-tiba dia merasa gerah. Dia berbalik dan tiba-tiba melihat He Yi Chen.

Dia bertemu tatapan Mo Sheng dan menganggukkan kepala padanya sebagai salam.

Jantung Mo Sheng berdetak lebih cepat, Mungkinkah Yi Chen berada di sini untuk mencarinya? Sudah hampir sebulan sejak ‘makan malam hening’. Mereka belum pernah berhubungan lagi sejak itu maka kali ini, mungkinkah Yi Chen berada di sini untuk mencarinya?

Tanpa sadar dia berjalan ke arah Yi Chen.

“Kenapa kamu berada di sini?”

“Menunggu seseorang.” Dia menjawab singkat.

“Oh, tunggu ……”

“Yi Chen!” Seorang wanita langsing dan cantik dengan suara feminin yang lembut muncul, membuat hati Mo Sheng luluh lantah.

“Orang yang aku tunggu di sini jadi aku pergi dulu.” Dia berkata dengan tegas dan bersama wanita itu meninggalkannya.

“Oke, sampai jumpa.”

Dia hanya berdiri di sana hampa dan mengamati mereka yang berjalan ke arah tempat parkir. Sejujurnya, dia tidak memiliki kekuatan untuk menggerakkan kakinya hingga Hua Xian Zi muncul dan menariknya pergi. “Kenapa kamu berdiri di sana dengan bodohnya? Berjalan lebih cepat karena kita akan terlambat. Aku juga harus membantumu memakai make-up. Ingat, oh, kamu harus bersikap sedikit lebih buruk dariku…… “

Mo Sheng memang tidak perlu berpura-pura selama kencan buta, ia benar-benar tampak bodoh dan tidak responsif, sempurna membantu Hua Xian Zi bersinar.


Yi Chen datang untuk menunggu wanita itu lagi.

Mo Sheng memandang ke bawah dari jendela besar dan melihat He Yi Chen dengan balutan kaos dan celana panjang tampak menawan di bawah sana. Dalam bulan ini, dia akan datang ke sini sekali setiap 4-5 hari, kemudian pergi bersama dengan wanita cantik tersebut.

Hari ini adalah akhir pekan, Yi Chen datang lagi.

Yi Chen tidak pernah menunggu dia sebelumnya.

“Ah Sheng, Ah Sheng.” Hua Xian Zi menjerit. “Hei, hari ini akhir pekan, Kamu ikut aku ya……”

“Oke.”

“Uh?” Hua Xian Zi terkejut, “Kau tahu apa yang ingin aku lakukan?”

“Kencan buta!” kata Mo Sheng dengan lemah. Memberikan “performa yang luar biasa,” di blind date sebelumnya, Hua Xian Zi menganggapnya sebagai “pendamping kencan buta” sehingga setiap akhir pekan, dia akan menyeretnya untuk pergi ke kencan buta.

Tapi benar-benar menyenangkan untuk pergi ke kencan buta karena dia tidak perlu khawatir bahwa pria-pria itu akan menyukainya. Dia hanya perlu untuk pergi makan malam dan menonton Hua XianZi memberikan pertunjukan untuk menghibur orang lain.

“Hari ini, orang macam apa yang akan kamu temui?”

“Hehehe, hari ini adalah seorang pria muda dan berbakat, seorang ahli bedah, makan makanan Barat, hahaha ……”

Mo Sheng merasa terhibur dengan sikap Hua Xian Zi. Tidak dapat disangkal bahwa dia cukup profesional sebagaimana kencan buta menjadi lebih baik dan lebih baik. Sayangnya, belum seorangpun yang dapat memenangkannya! Sebaliknya, karena alasan yang tak bisa dijelaskan, mereka menjadi teman baiknya atau suami teman-temannya. Hua Xian Zi, yang berusia dua puluh sembilan tahun dan dianggap tua untuk menikah, bersumpah untuk menikah dengan pria manapun yang akan mendapatkannya.

Karena kebutuhan untuk “make up” terlebih dahulu, Mo Sheng pulang kantor tepat waktu. Dengan demikian, tak terelakkan untuk bertemu He Yi Chen, yang sedang menunggu di lantai bawah. Mo Sheng hanya ingin berjalan melewatinya dengan kepala tertunduk. Dia tidak mengharapkan Hua Xian Zi tiba-tiba berhenti dan melihat dengan tatapan tajam pada perempuan cantik yang berdiri di samping He Yi Chen.

“Ini berlebihan!” Hua Xian Zi mengertakkan giginya dan berkata dengan marah. Sebelum Mo Sheng dapat bereaksi, dia ditarik Hua Xian Zi untuk berdiri di hadapan Yi Chen dan perempuan cantik itu.

“Rubah betina, kamu masih saja merayu pria.”

Perempuan cantik itu, meskipun tampak halus dan lembut, dengan mengejutkan berkata tegas: “Maniak kencan buta, kamu masih menyeret orang lain untuk menemanimu pergi ke kencan buta” Dia melirik Mo Sheng. “Dia terlihat jauh lebih cantik darimu jadi kamu hanya akan sendiri dan tidak bisa menikah dalam hidup ini!”

Dua orang tersebut mulai bertengkar. Mo Sheng nampak terkejut dan menyapa Yi Chen dengan canggung. “Hai!”

Raut wajahnya tampak agak buruk, dapat dimengerti karena tidak seorangpun akan senang bila kekasihnya disebut rubah betina.

“Eh, aku minta maaf, meskipun ia berbicara kasar, tapi dia tidak berniat buruk.” Mo Sheng mencoba membela Hua Xian Zi.

Yi Chen memberinya tatapan tajam, dan suaranya terdengar dingin seperti es. “Apakah kamu akan kencan buta?”

“Eh, ya……” Mo Sheng tidak tahu harus berkata apa tapi sikap ragu-ragunya hanya akan mempertegas kembali pertanyaan Yi Chen.

Yi Chen tidak mengatakan apa-apa, ekspresinya dingin sambil melirik ke arahnya kemudian berbalik dan meninggalkannya.

“Yi Chen, tunggu aku.” Perempuan cantik yang tengah bertengkar dengan Hua Xian Zi berhenti bertengkar dan buru-buru mengikuti Yi Chen ketika dia melihatnya pergi.

Mo Sheng sementara tidak punya waktu untuk memilah-milah suasana hatinya karena ekspresi Hua Xian Zi benar-benar aneh, karena dia sebenarnya sedang …… menangis?

Hei, Hua Xian Zi! Hua Xian Zi yang memberikan pertunjukan untuk menghibur orang lain setiap hari, menangis?

“Xiao Hong, kamu menangis hanya karena kamu kalah saat bertengkar, sangat memalukan ah.”

“Apa yang kamu tahu!” Hua Xian Zi menatapnya dengan mata yang terbuka lebar dan berkaca-kaca, “Dia mencuri pacar pertama saya.”

Uh, memang itu adalah kebencian yang pahit dan mendalam! Mo Sheng dengan cepat ikut menjadi marah dan menepuk bahu Hua Xian Zi. “Ada banyak ikan di laut. Kita akan menemukan satu yang baik malam ini untuk membuatnya marah. “

“Aku tidak marah karena dia pria yang aku suka. Aku marah padanya karena tidak menghargai pria itu, sehingga dia mengalami kecelakaan mobil. Lalu, meninggalkannya ketika ia menjadi lumpuh. Bagaimana dia bisa begitu? Kenapa dia masih mencintai orang seperti ini? Mengapa dia tidak menyukaiku, hanya karena aku tidak secantik dia? Hikz, hikz…… “

Mo Sheng terkejut mendengarnya. Dia tidak menyangka si penuh semangat Hua Xian Zi akan memiliki kisah seperti itu.  Benar, orang dengan penampilan luar yang lebih ceria akan memiliki hati yang lebih rentan di dalamnya?

Karena pertengkaran, keduanya terlambat untuk pertama kalinya. Mo Sheng juga tidak punya waktu untuk memakai make up yang jelek. Hua Xian Zi merasa tertekan sehingga dia tidak mengambil inisiatif atau memberikan pertunjukan untuk menghibur orang lain. Akibatnya ……

Dua ahli bedah yang luar biasa benar-benar sangat tertarik pada mereka ?!

Oh Tuhan! Mungkinkah ini dianggap sebagai berkah tersembunyi?

Karena antusiasme berlebihan pria-pria tersebut, mereka berempat pergi ke bioskop, kemudian ke sebuah bar karaoke dan diakhiri dengan makan malam. Mereka berada di luar paling lambat hingga pukul 11:00 sebelum pulang.

Akhirnya, Mo Sheng merasa lega saat melihat rumahnya. “Dr. Zheng, aku telah tiba di rumah. Terima kasih telah mengantarku pulang. “

” Oh” Dr Zheng berhenti berbicara tentang penyakit jantung dan sopan berkata: “Selamat malam, Miss Zhao. Hari ini sangat menyenangkan. “

“Aku juga, malam!” Mo Sheng tersenyum mengatakannya dan menunggu Dr Zheng untuk pergi sebelum naik ke lantai atas.

Lampu di koridor rusak sehingga tampak agak gelap. Dia berjalan ke lantai empat dan meraba-raba untuk kunci pintu. Tiba-tiba, bayangan tinggi dan gelap muncul dalam penglihatannya, Mo Sheng terkejut dan menjatuhkan kuncinya di lantai.

“Kau ……”

Sebelum dia bisa menyelesaikan ucapannya, dia ditarik ke dalam pelukan kuat dan bibirnya ditekan. Yi Chen tanpa ampun mencumbu bibir Mo Sheng berulang kali. Ciuman panas itu bahkan menyebar ke leher, seolah ingin  mencurahkan semua kemarahan yang terpendam. Tangannya merobek kerah baju Mo Sheng. Mo Sheng mulai merasa sedikit dingin di dada bagian atas, dan dia segera menutupinya dengan ciuman.

Mo Sheng tidak memiliki kesempatan untuk bereaksi tapi tanpa disangka terjebak dalam kenikmatan dan ilusi yang membingungkan. Suasana ambigu dipenuhi dengan bau alkohol. Alkohol? Dia minum!

Mo Sheng menjadi lebih jernih berpikir dan berseru dengan napas terengah-engah: “Yi Chen!”

Yi Chen berhenti, membenamkan kepalanya di leher Mo Sheng dan dengan cepat menghirup udara.

Beberapa waktu kemudian, barulah suara serak nya terdengar. “Aku telah kalah.”

Apa artinya ini?

“Setelah bertahun-tahun, aku masih kalah darimu, menderita kekalahan yang telak.”

Mengapa dia terdengar begitu terluka?

“Yi Chen, apa yang kamu katakan? Apakah kamu mabuk? “Dia bertanya dengan cemas.

Hening, lalu dia tiba-tiba mendorong Mo Sheng menjauh. Matanya yang indah bersinar canggung dan kesal di malam gelap. Suaranya dengan aneh terdengar sadar dan dingin: “Aku tidak mabuk. Aku gila. “

Dia berbalik dan tiba-tiba menghilang, seperti dia tiba-tiba muncul. Kalau bukan karena perasaan kesemutan sedikit di bibir, Mo Sheng akan berpikir ini adalah mimpi konyol.

Dia mengambil kunci untuk membuka pintu. Setelah memasuki rumah, dia hanya berdiri bodoh di ambang pintu. Jika telepon tidak tiba-tiba berdering, dia tidak tahu berapa lama dia akan berdiri di sana.

Setelah mengangkat telepon, dia langsung mendengar suara penuh semangat Hua Xian Zi. “Ah Sheng, bagaimana akhirnya?”

Apa? Mo Sheng sementara tidak mengerti apa yang ia katakan.

“Katakan dengan cepat lah, apakah Dr Zheng itu mengatakan sesuatu? Apakah dia meminta kamu untuk bertemu lagi? “

“Tidak”

“Bagaimana mungkin ?!” Hua Xian Zi berteriak, “Dia jelas tampak sangat tertarik.”

Dia mungkin senang memiliki seseorang yang bersedia mendengarkan kuliah topik khusus tentang “Jantung dan cinta”.

“Bagaimana denganmu?” Mo Sheng tidak ingin bertele-tele sehingga bertanya dengan langsung.

“Dia mengundangku untuk menonton film besok, hee hee hee……” tawa menakutkan datang dari sisi lain, “Ah Sheng, mulai besok, saya ingin berperilaku seperti seorang wanita!”

——- end of ch 2—————-

4 responses to “Silent Separation Chapter 2 – Indonesian

  1. haha anytime.. fighting! masih banyak yg harus ditranslate tapi enjoy banget baca lagi dan lagi.. never get bored! i love yi chen even more😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s